Rabu, 07 Februari 2018

Menikmati Fasilitas Kereta Bandara


Indonesia boleh berbangga, karena PT Kereta Api Indonesia (Persero) secara resmi telah membuka pelayanan untuk Kereta Bandara Soekarno-Hatta dengan rute (untuk saat ini) Stasiun Sudirman Baru (BNI City) – Stasiun Batu Ceper – Soekarno Hatta.


Awal bulan Februari ini saya berkesempatan menjajal layanan Kereta Bandara ini dari Stasiun Sudirman Baru (BNI City) Menuju Bandara Soekarno Hatta. Meski tak sempat menghitung, menurut laporan dari berbagai sumber Layanan Kereta Bandara ini terdiri dari 272 kursi yang diatur dengan posisi dua disebelah kiri dan dua disebelah kanan. 


Jujur, saya pribadi cukup dibuat terkagum-kagum karena fasilitas yang disuguhkan begitu ciamik dan juga karena masih baru, sangat nyaman sekali untuk ditumpangi. Berikut beberapa potret fasilitas yang terdapat di dalam Kereta Bandara yang sempat saya abadikan

1. Kursi Penumpang
Dengan pengaturan posisi 2-2 tentu besaran kursinya terasa begitu lega, terlebih dengan adanya tuas untuk mengatur posisi kursi sesuai dengan yang kita inginkan. Mau tahu hal menarik lainnya ? diantara kedua sisi kursi terdapat port USB yang bisa kita gunakan untuk mencolok kabel yang bisa digunakan untuk mengisi daya Ponsel ataupun power bank.


2. Tempat penyimpanan barang
Kalau biasanya kita hanya mendapati bagasi barang yang diletakan persis diatas kursi penumpang, ada yang sedikit berbeda dengan Kereta Bandara ini, Ada tambahan tempat untuk menrauh barang yang diletakan persis disebelah pintu otomatis keluar/masuk. Space ini cocok untuk ditaruhi tas berukuran besar seperti koper.


3. Toilet Umum
Meski bisa dibilang tidak terlalu besar, toilet yang disediakan didalam kereta bandara cukup apik dan yang paling penting bersih. Meski ada perbedaan yang cukup kentara dari segi ukuran untuk toilet pria dan wanita. Saya sempat memasuki toilet pria, dan ruangannya benar-benar hanya cukup untuk satu orang berdiri, urinoir posisinya tepat berhadapan dengan pintu toilet, sisi kirinya terdapat westafel kecil juga cermin yang cukup besar dan minusnya toilet pria tidak memiliki flush toilet, sehingga para pria harus bersabar hingga di stasiun tujuan jika ingin melakukan aktifitas BAB (Buang air besar). 




Sementara toilet wanita memiliki ukuran ruangan yang cukup ideal, saya masih bisa bergerak bebas. Adanya flush toilet juga meja lipat yang disediakan untuk mengganti popok / menidurkan bayi membuat toilet ini mendapat nilai plus dimata saya.


4. Fasilitas Pemesanan Tiket Online
Selain bisa membeli tiket kereta Bandara melalui loketnya langsung, PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui laman https://reservation.railink.co.id/ juga menyediakan fasilitas untuk melakukan pemesanan tiket secara online Baca : Cara melakukan pemesanan tiket Kereta Bandara online

Bagaimana menurut kalian ? luarbiasa bukan ? semoga informasi ini bermanfaat yah


Andah, 2 Pebruari 2018

Selasa, 06 Februari 2018

Susah Dapetin Tiket Kereta Bandara ? Booking Online Ajah !

Kereta Bandara yang baru saja diresmikan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) beberapa bulan lalu, memberikan angin segar bagi para pengguna moda pesawat udara sebagai alternatif untuk mengakses lokasi Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, terdapat 2 stasiun (saat ini) yang menyediakan akses Kereta Bandara, yaitu Stasiun Sudirman Baru (BNI City) dan Stasiun Batu Ceper Tanggerang. Selain bisa membeli tiket langsung di loketnya, kita juga bisa memesan tiket Kereta Bandara secara online melalui laman situs https://reservation.railink.co.id/



Bagaimana caranya ?

1. Akses laman situs https://reservation.railink.co.id/

2. Klik “Show Reservation Form “


3. Jika kamu hanya ingin melakukan sekali perjalanan isi form “One Way”, jika perjalanan pulang pergi isi form “Round Trip” Klik Tombol “Search”


4. Pilih Jam keberangkatan, lalu klik tombol “Continue”


5. Setelah  memastikan data yang di input sudah benar klik tombol “Confirm”



6. Pilih Metode Pembayaran, lalu klik tombol “Complete Booking”


7. Pastikan kembali data “order detail” & data “customer detail” nya sudah sesuai pada halaman “Order Summary”, lalu klik tombol “Continue”


8. Lalu lakukan konfirmasi pembayaran dengan menginput data pembayaran laluklik tombol “Confirm Payment” untuk melanjutkan proses selanjutnya.


9. Setelah itu kita akan mendapatkan email “Booking Confrimation” , segeralah lakukan pembayaran tiket sesuai dengan metode pembayaran yang sudah dipilih sebelumnya.


10. Setelah melakukan pembayaran, kita akan mendapatkan email “Payment Confirmation” disertai dokumen dalam bentuk PDF yang berisi nomor barcode yang nantinya harus di scan pada saat melewati gate masuk Kereta Bandara.

Selesai, kini kita bisa menikmati pelayanan Kereta Bandara tanpa perlu khawatir kehabisan tiket.  Semoga bermanfaat

Andah, Jakarta 7 Pebruari 2018

Minggu, 11 Juni 2017

Pagi

Aku benci pagi,
Terlebih jika malamnya hujan turun disertai kilat yang menyambar.
Bau basah tanah yang aromanya tak jauh berbeda dari bau anyir darah.

Aku benci pagi
Karena ditiap ku membuka mata, aku selalu berteriak menyeru namanya.
Mencari-cari keberadaaannya, yang kutahu tak kan pernah lagi ada.

* * *

Malam itu bumi kembali basah, petir saling bertalu menyerukan kegelisahannya. Aku terbangun karena seketika seluruh ruangan menjadi gelap!

"Mama!" seruku resah, Sebuah tangan menyapu wajahku dengan lembut, aku kenal sentuhan ini

"Mama cari lilin dulu ya sayang, lily jangan kemana-kemana janji?" Aku mengangguk dalam gelap.

BRAKK!!!

"Mama!!" kali ini aku berteriak, mencoba meraba jalan dan mendekati sumber suara.

Kilat yang masih menyambar sesukanya membuat pemandangan rumah terlalu mencekam, tapi setidaknya aku tahu dimana letak tangga dari sisa cahaya yg ia tinggalkan. Perlahan kutiti anak tangga satu persatu, hingga dianak tangga yang terakhir, kurasakan sesuatu yang menggenang diantara kedua kakiku dengan aroma asing yang begitu mengusik indra penciumanku.

"Mama..." kali ini suaraku melemah, dan aku pun langsung menghentikan langkah ketika ada sesuatu yang menghalangi jalan.

Aku merunduk, memastikan benda apa itu. Tapi aroma nya mirip mama. Kembali kurasakan kehangatan yang amat sangat kukenal ketika merabanya.

"Mama...!" Kilat kembali menyambar, Kuguncang pelan dan kudapati wajah mama yang sudah tertutupi oleh pekatnya darah.

* * *

"MAMA!!!" 

Aku kembali terbangun dengan peluh yang membanjiri tubuh, langsung kulihat arah jendela yang masih gelap gulita, sadar diluar tengah hujan lebat disertai kilat yang menyambar-nyambar. Lalu beralih ke arah jam dinding. 

Pukul 02.00

"Sial!!"

Kembali kutarik selimut rapat-rapat, berharap kali ini aku bisa terbangun lebih siang.

By. Hamdatun Nupus

Kamis, 08 Juni 2017

Abah

Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak, padahal emak sudah kelelahan mengiringi malam dengan tembang-tembang nina bobonya.

Kulihat abah sudah mulai bergegas menyiapkan kail dan jala untuk dibawa ke pesisir pantai tempat dimana perahu kecilnya tertambat.

"Tidur ya neng, bentar lagi subuh. Nanti dimarahi pak ustadz nggak ngaji lagi" seru emak sambil mengusap-ngusap kepalaku.

"Aku juga ingin segera tidur mak, tapi tak bisa" keluhku dalam hati

Ada kegusaran yang tak dapat kuartikan dengan benar, terlebih setelah abah pamit kepadaku dan emak lalu menutup pintu rumah rapat-rapat.

* * *

Benar saja, aku sukses bangun ketika matahari sudah terik membelah langit biru diatas sana. Tak ayal kudengar suara pak ustadz yang datang mengunjungi emak karena keabsenanku mengaji bada subuh tadi di surau. Sedikit menegurku sebetulnya, tapi aku hanya bisa bersembunyi didalam kamar berbilik bambu ini. 

Emak menghampiriku, menjawil gemas hidungku yang tak terlalu tinggi ini dan kembali mengingatkanku untuk tidak tidur larut lagi malam nanti.

Lalu kutatap jam dinding lekat-lekat, aku tak salah lihat. Jarumnya sudah mengarah ke angka sembilan.

"Mak! abah belum pulang ?" seruku kemudian

"Bentar lagi paling neng!" sahut emak dari dapur.

Kini giliranku yang menghampirinya. Mengambil baskom yang berisi kecambah dari tangan emak dan menggantikannya memilah-milah.

Langit yang tadinya biru berubah menjadi lebih gelap dan temaram. Tapi abah belum juga pulang. Padahal tumisan kecambah dan nasi yang sudah terlanjur mendingin masih tergelar diatas tikar. Kini emak yang gelisah, habis sudah kepalan tangannya teremas kuat-kuat.

"Kemana abah ?" seruku lirih dalam hati

* * *

Malam menjelang, tanda-tanda kehadiran abah kian musnah. Dan sesaat kemudian, kami lihat beberapa orang mendekat dari kejauhan. Sepertinya cukup banyak jumlahnya jika dilihat dari pendar sinar obor yang melingkupinya.

"Mak warsih!!" seru salah satu dari mereka ketika berhasil menatap wajah sendu emak.

Aku hanya bisa mendengar penuturan mereka dari balik tubuh emak yang meringkih. Kemudian bergetar karena tangis.

"Perasaan tak menyenangkan apa ini ?" ujarku lirih disela-sela kebingunganku.

* * *

Aku, emak dan beberapa warga sekitar rumah kini berdiri melingkar diatas gundukan tanah berpasir yang sayanganya tak ada penghuninya. Hanya ditambahi sebuah batu nisan berlafal nama abah diatasnya. 

Yang kuingat, setelah mencoba membantu menyadarkan emak dari pingsan, satu kenyataan yang aku coba percayai adalah. Abah sudah tiada, kapal kecil beserta isinya masih utuh diatas permukaan laut tapi tubuhnya hilang entah kemana.

Beberapa nelayan lain sudah mencoba menyelam disekitaran area mereka, tapi nihil. Tubuh abah tidak juga ditemukan.

Dibandingkan memelihara rasa kehilangan kepada jasad abah yang belum tahu dimana rimbanya. Aku memilih percaya bahwa abah memang sudah terkubur disana. Agar aku punya  alasan untuk mengunjunginya setiap hari di pemakaman ini. Bukan berkelana dalam ganasnya lautan

By. Hamdatun Nupus

Rabu, 07 Juni 2017

Ain





"Ain mau jilbab biru bu!"

Ini bukan kali pertama Ain merengeki Asih acap kali mampir ke pasar Depok Lama untuk membeli kebutuhan dagangannya. Apalagi dibulan Ramadhan dimana intensitas penjual kerudung makin merebak disepanjang jalan.

"Ain mau jilbab biru bu!" serunya kembali, Asih masih acuh, tangannya masih sibuk memilah-milah wortel dan tauge untuk bahan dasar bakwan yang akan ia goreng siang nanti.

"Ain mau jilbab biru !!!" kali ini suara ain setengah berteriak, asih menghentikan aktifitasnya sesaat lalu memandangi wajah ain dengan wajah kesal

"Kamu tuh masih kecil ain! gak perlu pake jilbab!" Sahut Asih berang

"Tapi kata pa ustad, perempuan itu harus pake jilbab bu!" rengeknya lagi

"Allah itu pengertian ain! sudah jangan merengek terus!" Asih kembali mengabaikannya.

Jangankan untuk membeli jilbab, hasil dagangan Asih menjual gorengan saja hampir tak menutupi kebutuhan mereka sehari-hari.

Rengekan ain berlanjut hingga keesokan harinya, ia memilih tak bicara sepanjang hari. Asih membiarkannya, nanti juga capek sendiri pikirnya.

Tanpa Ain, Asih tetap menjajakan gorengan buatannya di lapangan dekat rumah. Biasanya bada Ashar banyak warga yang mencari makanan untuk berbuka. Meski cuma setahun sekali Asih hampir selalu mencari peluang berjualan disana dengan warga lainnya.

Hari ini dagangan Asih ludes tanpa sisa, ia merasa senang bukan kepalang. Ia bergegas pulang untuk menyiapkan makanan berbuka dengan Ain. Sesampainya dirumah, Asih sempat heran karena lampu depan rumah  belum menyala. Anak ini pasti ketiduran ! keluh Asih.

Asih mengintip kamar 2x3 meternya itu, benar saja Ain masih berbaring dan terlihat sangat nyenyak. Tak tega membangunkan Asih langsung menuju dapur, menghangatkan makanan yang sudah terlebih dulu ia masak siang tadi.

Adzan berkumandang, Asih makin heran karena tak biasanya Ain terlelap hingga magrib. Sedikit berteriak Asih memanggil nama Ain berulang-ulang, tapi tak ada jawaban. Asih mulai kesal dan segara bangkit ke kamar. Ia guncang-guncangkan tubuh anak semata wayangnya itu, tapi Ain tak juga terjaga.

Aneh, tubuh Ain terasa dingin sekali. Asih mencoba menepis pikiran buruknya dengan mengguncangkan tubuh Ain lebih kuat. Nihil! Ain tidak bergeming, seketika Asih tertunduk lemas. Kekuatannya hilang entah kemana, ia dapati kerudung biru lusuh miliknya yang telah memudar terdekap erat dalam pelukan Ain.

Innalillahi wa inna illaihi rojiun

Seminggu yang lalu...

"Bu, tadi pa ustad cerita. Katanya kalo Ain jadi anak sholehah, Ain bisa bikinin rumah yang beeessaaaar buat Bapak di Surga, Rumah yang ada Taman dan juga air sungai yang mengalir deras" Ain begitu bersemangat bercerita sambil memotong-motong wortel disisi Asih, Asih hanya menanggapi celotehan anakknya itu dengan senyuman

"Nanti kita tinggal sama-sama ya bu di rumah itu!" Mata Ain membulat ke arah Asih, Asih mengangguk pasti sambil tetap tersenyum.


By. Hamdatun Nupus




Kamis, 04 Agustus 2016

Dan Akhirnya

[P][A][R][T][.][2]
Hingga Akhirnya





"dengarkan alunan lagu,
yg mampu menyembuhkan lara hati
warnai hidupmu kembali
menarilah
bernyanyilah"

* * *

Alfa mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, Suara musik di pagi buta yang berhasil membangunkannya lebih awal pagi ini. Alfa bangkit mencari sumber suara, dan ia kembali melihat laki-laki itu di sudut balkon kamarnya.

"hei...udah bangun?" laki-laki itu tersenyum kearahnya

"kamu kenapa ada disini?" seru alfa heran

"karena aku bosan..."

"bosan ?"

"hmmm, karena kamu tak kunjung menepati janji...lalu kapan? kapan aku bisa mendengar kamu memainkan lagu ini dengan piano itu?"

"aku..."

Kemudian senyap, alfa kembali membuka kedua matanya. terdapat peluh yang membanjiri tubuhnya yang payah, Alfa bangkit dan mencoba mengingat mimpinya barusan. Sesekali matanya berkedip seolah sedang mengulang proses semua memori yang ia paksa raih, keinginannya untuk memainkan piano itu, hari pertama ia bekerja di cafe itu, hari pertama ketika ia bangun dari koma, hari dimana ia berada dalam kecelakaan itu.

Seketika kedua mata alfa basah "nggak mungkin" serunya lirih nyaris tanpa tenaga

Tak lama berselang anastasya masuk dari arah pintu "fa...kok tumben jam segini bel..." seketika kalimat anastasya berhenti disitu saat kedua matanya langsung menangkap raut wajah alfa yang tak biasa "alfa kamu kenapa?" anastasya langsung menghamburkan diri sambil memegang dahi serta kedua sisi pipi nya.

Alfa tak menyahut, malah air matanya kian membanjiri wajahnya yang mulai memucat. Tak tinggal diam anastasya langsung menghubungi rega untuk segera datang, khawatir akan ada hal buruk yang akan segera terjadi selanjutnya

"fa...alfa...alfa...?!!" pekik anastasya berulang ulang sambil menguncang guncangkan tubuh alfa

"laki laki itu an..." sahut alfa akhirnya, anastasya menatap tajam kedua mata alfa. Ia langsung teringat perdebatan sengitnya dengan rega beberapa hari lalu mengenai permintaan alfa untuk menemukan seorang laki-laki yang tak diketahuinya.

"laki-laki itu? kenapa? kamu udah inget dia siapa?" ujar anastasya lirih
Dengan air mata yg masih mengalir "laki-laki itu...laki laki itu ada di lokasi kecelakaan an, dia si pengendara ford putih..."

Anastasya kembali mengingat kejadian setengah tahun lalu, kecelakaan beruntun yang dialami alfa hingga membuatnya koma selama 2 bulan, kecelakaan yang disebabkan oleh seorang pengendara mobil yang mengedarai mobilnya dengan ugal-ugalan sehingga akhirnya alfa dan pengemudi truk itu terbaring tak berdaya di rumah sakit.

"laki laki itu yang nyelametin aku an..." sahut alfa kembali,

brukkk, terdengar suara benda jatuh dari arah pintu, disana ada rega yang tengah berdiri mematung.

"maksud kamu apa fa??" seru rega dengan tatapan tak percaya "bualan apa lagi ini???, setelah semua keanehan sikap kamu pasca koma, lalu ini apa lagi ??, jelas-jelas laki-laki itu yg nyebabin kamu celaka?!!" pekik rega geram

Alfa menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tangisnya pun kian membuncah

* * *
"pokoknya batalin semua jadwal pertunjukan pekan ini, pekan berikutnya...bulan depan, selanjutanya...seterusnya ?!!"

"ya kamu gak bisa seenaknya gitu maen ngebatalin schedule yg udah di arrange fa...sebagian besar acara besar loh?!"

"aku udah gak tahan ga?!...ini bukan hal yang aku inginin, Aku berhenti sampai waktu dimana aku bisa nemuin kenyamanan bermain piano seperti dulu...bukan disibukan dengan tuntutan yang memaksaku bekerja keras seperti ini?!”

Tuuuttttt

Sambungan itupun terputus, alfa melepas nafas panjang dan berat. Dikepalanya berkecamuk mengenai banyak hal yang tak sanggup ia tanggung lagi, awalnya ia kira akan bahagia menjalani profesi sebagai pianis, tampil di berbagai festival dan pertunjukan besar, di elu-elukan banyak orang karena bakat bermain piano nya. Tapi nyatanya kehidupan yang seperti itu justru membuatnya tersiksa, ia tak lagi bisa menikmati betapa bahagianya ketika ia mampu memulai dan mengakhiri sebuah lagu yang ia ingin bawakan, bukan yang orang lain ingin dengar. Alfa melajukan mobil yg dikendarainya lebih cepat.
tiin tiiin....tiiin tiiin

Alfa sadar suara klakson itu ditujukan untuk dirinya, karena sedari tadi dijalan yang ia lalu hanya ada mobil yg ia kendarai dan mobil ford putih yang mengekor dibelakangnya, segera saja alfa membuka kaca depan dengan malas.

Mobil ford itu melaju sejajar dengannya, si pengendara turut menurunkan jendela dan disana nampak seorang laki-laki berusia sekitar akhir 20-an akhir meminta perhatiannya

"turunin kecepatannya?! maksimal laju kendaraan disini 40km/jam?!" serunya setengah berteriak

"ahh apa-apaan orang ini, lalu yang dia lakukan sekarang apa? bukannya sama saja?" sahut alfa lirih dengan nada kesal, tak ingin memperpanjang masalah alfa pun langsung menurunkan kecepatan laju kendaraannya sambil menginjak pedal rem, namun ada yang aneh, Rem mobil nya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Mendadak alfa panik dan malah justru kembali menginjak pedal gas lebih dalam secara spontan.

"hei?!!..." teriak laki-laki itu

Keringat dingin mengalir deras melewati wajah alfa, seketika begitu banyak kemungkinan kemungkinan buruk yang terlintas didalam benaknya. Sementara laki-laki itu masih berteriak –teriak sambil tetap mengejarnya.

"kenapa??" teriak laki-laki itu dari arah sebrang

"blong?!!...rem nya blong?!!" teriak alfa akhirnya

"jangan panik....turunin gas nya pelan-pelan...." teriaknya lagi

"oke alfa...jangan panik" serunya dalam hati, beruntung jalanan didepannya kosong tapi nahasnya tak lama setelah itu terlihat sebuah truk besar dari kejauhan, Konsentrasi alfa kembali terpecah. Wajahnya kini bahkan memucat, tak bisa lagi ia rasakan genggaman tangannya dari balik setir.

Badan truk itu semakin lama semakin dekat jaraknya, alfa sudah kehilangan kesadaran bahkan tatapan kedua matanya sudah kosong, sementara laki-laki itu masih terus menjaga jarak persis disamping mobil alfa sambil terus menerus menekan klakson berharap mobil truk yang ada didepan mereka menyadari kekisruhan ini, Tapi apa daya, seperti sebuah bencana yang sudah dapat diprediksi dalam hitungan detik, alfa tak lagi mampu berharap akan ada keajaiban terjadi pada dirinya.

Dan benar-benar hanya dalam hitungan detik, tiba-tiba saja mobil ford putih itu melesat melewati badan mobil alfa. Memotong jalur mobilnya dan menabrakan mobil itu ke badan truk sehingga seketika truk itu berhenti tepat ketika badan mobil alfa berbenturan dengan mobilnya. Seketika dunia alfa gelap.

* * *

Namanya Ale, usia 28 tahun hobi bermain piano, mengelola sebuah cafe kecil bersama tunangannya anne. Mimpi ale begitu sederhana, sebisa mungkin menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan. Tak heran ale begitu digemari oleh semua orang dilingkungannya, bahkan oleh orang orang asing di setiap sudut jalan yang pernah ia sambangi. Dan hari itu, menjadi hari terakhir bagi ale. Hari dimana ia berusaha menyelamatkan nyawa seorang perempuan yang bahkan tidak ia kenal, meski pada akhirnya banyak hal yang harus direlakan pergi setelah itu.

Ale menggengam tangan alfa, menatapnya dengan wajah meminta "aku tahu...aku akan menepati janjiku, terimakasih untuk segalanya" seru alfa lirih, dan disana alfa melihat wajah ale tersenyum.

Akhirnya terdengar suara denting piano dari piano usang itu, nada yang terdengar begitu riang berbanding terbalik dengan suasana hati alfa yang masih mendung, disudut satunya rega memeluk anastasya dengan erat, seolah tak kuat melihat apa yang tengah terjadi hari ini.

Anne yang baru saja masuk ke dalam cafe tentu terperanjat kaget, baginya nada lagu yang terdengar dari alunan piano yang dimainkan alfa seperti baru saja kemarin ia dengar ketika ale memainkan piano itu di petang terakhir sebelum kepergiannya. Seketika kedua sudut mata anne basah, ia akhirnya bisa tersenyum lega karena hari ini ia bahkan bisa melihat sosok ale disana.

" saat jiwamu terlarut dalam gundah
dan seakan tiada jalan keluar
cobalah engkau pahami bahwa
hidup ini terlalu singkat untuk disesali
nyanyikan apa yang kau rasakan
rasakan apa yg kau nyanyikan
nyanyikan apa yg kau rasakan "

Alfa sadar, ia mampu bertahan hidup untuk sebuah alas an. Tuhan mengambil laki-laki sebaik ale agar perempuan keras kepala sepertinya bisa belajar. Bahwa hidup tak harus selalu mengenai apa yang ia inginkan, dan menuntut apa yang seharusnya ia dapati. 

Terkadang bahkan justru ia harus lebih banyak memberi tanpa pamrih seperti ale.

Dan duka tak seharusnya membuat ia lari, karena rasa sakit akan tetap ada selama ia menolak dan tak mengakui keberadaan rasa sakit itu. Ia hanya harus menerima, karena dengan begitu segala rasa sakit atas apapun perlahan akan sirna.

* * *

[Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Muskimia, Nulisbuku.com dan Storial.co]

Dan Akhirnya

[P][A][R][T][.][1]
Awalnya




Ini adalah sebuah kisah mengenai seseorang yang kehilangan hampir separuh dari ingatannya, mengenai apa-apa yang sebelumnya ia ingin raih dan apa-apa yang sebelumnya ingin ia tinggalkan. Ia diingatkan melalui sebuah pengorbanan dan kehilangan, dia Alfa.

* * *

Rega dan anatasya terlihat sibuk memperhatikan alfa yang tak kunjung berhenti melayani pesanan, Me-refil isi minuman, menghantarkan makanan, membersihkan meja.

"kamu liat kan an? She’s like...another alfa yang kita kenal, sejak kapan hal-hal kayak gini bisa sangat familiar bagi dia?"

"biarin aja sih ga, selama alfa seneng dan gak keganggu..."

Perempuan yang mereka sebut alfa itu pun menghampiri meja rega dan anastasya sembari meletakan dua gelas lemon tea pesanan mereka.

"apa harus 7 hari dalam seminggu kalian selalu ada disini?" seru alfa dengan gimik kesal,

Baik rega maupun anastasya hanya bisa mengangguk sambil mengulum senyum. Alfa yang kehabisan akal untuk mengusir kedua temannya itu hanya bisa kembali menyibukan diri dengan pekerjaannya sekarang.

"lemon tea?" seru anne dari arah samping, rega dan anatasya tersenyum

"the best ever mbak anne...duduk mbak" ujar anastasya menawarkan

"jadi kalian masih menunggu?" tanyanya lagi

"hmmm" rega mengangguk pelan "aku nggak tau sampe kapan alfa sadar dan kembali, jadi yang bisa kita lakuin cuma nunggu mbak anne..." anne hanya membalas jawaban rega dengan senyuman lirih.

"terimakasih banyak hingga detik ini ya mbak, kalo aja mbak anne nggak ngijinin alfa berbuat semaunya kayak gini...kita gak tau harus bagaimana lagi ngehadepinnya" seru anastasya.

Anne menatap dua pasang mata yang ada dihadapannya saat ini, dua pasang mata yang sejak 4 bulan lalu kerap hadir mengisi senyap yang merobek hatinya, senyap yang timbul atas irama yang bernama kehilangan.

Sementara Alfa masih larut dengan kesibukan yang bahkan tidak mampu ia mengerti kenapa harus ia lakukan, Seolah sedang mencari, seolah ingin mengingat tapi begitu sulit rasanya.

4 bulan, sudah sejak 4 bulan ia hanya bisa menatap piano usang itu tanpa firasat apapun..hanya mampu menyentuh tiap tuts baloknya tanpa mampu di dentingkan, ada rasa sesak menyergap terkadang namun alfa tak mampu menterjemahkannya.

* * *

"laki laki mana fa??" seru rega geram

"aku juga nggak tau ga, tapi tolong cari dia...cari dia?!!" pekik alfa, rega menatap kedua bola mata alfa dengan marah.

Sejak terbangun dari koma 4 bulan lalu, setelah secara tiba-tiba alfa rutin datang ke cafe mba anne dan menganggap dirinya sebagai pegawai ditempat itu, lalu sekarang apa lagi??, mencari laki-laki yang bahkan alfa sendiri pun tak tahu siapa ?

Ingin rasanya rega menghempaskan tubuh ke tanah, karena memaki alfa yang seperti ini lebih tidak mungkin rasanya.

Alfa menerawang jauh ke belakang, kini tiba tiba saja ia mengingat seorang laki-laki yang kerap hadir dalam mimpinya. Seolah laki-laki itu memang pernah ada di masa silam, Seolah keberadaannya cukup penting karena hasrat untuk menemukannya menjadi jauh lebih besar.

"kamu menyukainya ?" tanya laki-laki itu menarik perhatiannya,

"hmmm" alfa mengangguk sambil masih terus memandangi piano usang dari balik dinding kaca

"aku bisa memainkan beberapa lagu" serunya sambil tersenyum

"benarkah ??" kedua mata alfa membulat "berarti kita bisa bermain bersama ?, pasti menyenangkan" alfa tertawa

"tapi aku lebih suka menikmatinya, jika tidak keberatan...maukah kamu memainkan satu lagu untukku?" seru laki-laki itu bernada jenaka

"lagu apa?"

laki-laki itu mengeluarkan sepasang headsfree dan melingkarkan salah satu bagiannya ke telinga alfa, terdengar musik bernada semangat didalamnya. Alfa dengan khusyuk mendengarkan tiap bait lagu itu, sebuah lagu asing dengan lirik sederhana. Meski bukan genre musik yang biasa ia bawakan disetiap pertunjukan, entah mengapa alfa menyukainya

"bagaimana ?" tanya laki-laki itu kembali

"aku akan memainkannya, tapi jika hanya kamu bersamaku" alfa mengaitkan jari kelingkingnya ke jari laki-laki itu "janji ??"
laki-laki itu pun mengangguk

* * *

"ini udah nggak beres an?!! aku nggak tahan ngeliat alfa kayak gini?!! mau sampe kapan kita ngebiarinin alfa bertindak sesukanya??, dia lupa mengenai kecelakaan itu, dia lupa karirnya sebagai pianis, dia lupa dengan keluarganya, dia lupa sama kita?!!" seru rega geram

"tapi kita nggak bisa maksa alfa untuk inget semuanya ga...kamu inget kan dokter bilang apa? alfa bisa depresi karena berusaha mengingat itu semua...alfa butuh waktu.." sahut anastasya

"sampe berapa lama? setahun? dua tahun?...sampe berapa lama lagi?? kita harus paksa alfa untuk balik, karena sekarang dia udah mulai mencari orang yang bahkan entah ada atau tidak didunia ini?!!"

"rega...kita cuma harus support penuh ke alfa, biarin alfa menjalani kehidupan yang dia percayai...seperti dulu kita percaya bahwa menjadi seorang pianis adalah pilihan alfa untuk tetap hidup"

Rega mengehembuskan nafas panjang dan berat, ia menarik seluruh rambutnya ke belakang "aku cuma takut...takut alfa tidak pernah kembali" seru rega lirih.

Alfa menatap meja kosong yang biasa ditempati rega dan annatasya selama ia bekerja, sedikit kecewa karena mereka tidak datang hari ini, sambil terus melakukan pekerjaan-pekerjaan hariannya kedua matanya pun kembali terpaut ke arah piano usang itu. "ada apa sebenarnya?" pikir alfa, mengenai semua ingatan-ingatan yang tiba-tiba muncul belakangan membuat alfa bertanya-tanya, apa benar dia mampu memainkan alat musik itu.

"coba lah..." seru anne membuyarkan lamunannya

"ya mbak?" sahut alfa gelagapan

"piano itu...kamu selalu menatapnya seolah ingin melahapnya habis tanpa sisa" anne tersenyum, sementara alfa tertawa lirih

"aku hanya menerka-nerka, apa mungkin di masa lalu aku benar-benar bisa memainkan piano. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya tidak mungkin" alfa kembali tertawa

"disini hanya ada satu orang yang bisa memainkan piano itu, bahkan piano itu sengaja ia seret ke cafe ini hanya untuk ia mainkan dikala senja dan malam" alfa seketika menatap penuh perhatian ke arah anne "tapi itu dulu, dulu saat orang itu masih ada..." raut wajah anne berubah muram. Alfa tidak mengerti, tapi rasanya ia mengerti perasaan kehilangan itu. Ia menggenggam tangan anne dengan hangat

"cobalah sesekali..." anne kembali tersenyum hangat ke arah alfa, alfa mengangguk enggan

* * *

[Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Muskimia, Nulisbuku.com dan Storial.co]